Bandung (Part III)


Aku mulai bosan dengan apa yang ada di sekelilingku saat ini. Buku-buku novel, kitab-kitab karya ulama besar, salinan-salinan hadits yang harus kuhafalkan, suara nasyid yang terputar meski sangat merdu, dan semuanya.

Kulihat jumlah uang dalam dompetku. Masih lebih dari cukup untuk pengeluaran yang tekah kurinci untuk bulan ini sebelumnya.

Kukenakan jilbabku yang minggu lalu kuterima dari seorang sahabat yang baru berpergian dari Yaman. Cenderamata katanya. Asli berbahan sutra. Lembut. Dan kupakai jaket beludruku.  Karena diluar udara dingin cukup bisa menusuk tulang.

Minggu ini aku ingin mengahabiskan waktuku dari semua kejenuhan aktivitas rutinku. Aku berjalan, Menyusuri trotoar yang dipinggirnya tertanam pohon-pohon dan rumput-rumput yang masih dihinggapi sisa sisa tetesan air hujan. Biasan sinar matahari masih bisa kulihat. Seperti pantulan emas yang begitu berharganya.

Dalam beberapa menit, aku telah sampai pada kebisingan pusat kota Hujan. Angkutan-angkutan umum berjejer seperti semut yang tadi pagi kuperhatikan berjejer di tembok kamarku. Seolah ada tangan tersembunyi yang mengatur susunannya. Dan aku,  menaiki salah satunya.

Hanya ada beberapa penumpang di dalamnya. Seorang kakek tua yang setia menghisap rokok kreteknya. Mungkin untuk sekedar menghangatkan tubuhnya dari dinginnya udara musim hujan. Dan sepasang muda-mudi, berkisar 17 tahunan, duduk berdekatan, tampak terlihat seperti sepasang kekasih.

Sejenak, aku memperhatikan sekitarku. Tenyata dalam angkutan ini pun aku masih dapat melihat sisa-sisa tetesan air hujan yang menempel pada kaca. Bila terus diperhatikan, tetesan itu memiliki keindahan. Seperti kristal. Bening dan bercahaya.

Dalam beberapa menit, angkutan umum yang membawaku telah jauh meninggalkan tempat dimana aku pertama kali menaikinya. Kulihat arlojiku. 13.45. Kufikir hanya sekitar 45 menit aku akan sampai pada  tujuanku, dirumah seorang sahabatku. Sarah Aulia.

Aku diam. Memperhatikan hal-hal dari balik kaca jendela, seniman jalanan, para pengemis di trotoar, restoran- restoran mewah dan hotel-hotel megah.

Setelah lama melaju, angkutan yang kutumpangi telah memasuki daerah yang menjadi tujuanku. Hingga akhirnya angkutan umum itu berhenti karena permintaanku.

Aku masih harus menyusuri jalan yang sedikit berbatu untuk sampai pada rumah yang menjadi tujuanku. Wangi daun yang tersiram air hujan menyeruak masuk dalam hidungku. Dan tak hanya itu, aromamawar dan melati basah pun berhamburan di udara sekitarku. Sebentar lagi fikirku. Sebentar lagi. Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah halaman rumah yang penuh diisi bunga-bunga.

Bau harum mawar dan melati basah memenui udara sekitarku. Aku melewati taman kecil itu. Sambil mengagumi keindahannya.

Ketika aku hampir sampai di depan pintu rumahnya, kulihat Sarah datang meyambutku. Ketika aku telah dekat dengan dirinya, kucium kedua pipi kana kirinya dan lantas ia mempersilahkan aku masuk ke dalam  rumahnya.

Aku duduk di sebuah ruangan yang di setiap sudutnya tersimpan vas bunga dengan rangkaian mawar yang begitu indah. Ia begitu terangkai rapi dalam tempatnya. Membuat setiap orang yang melihatnya begitu kagum pada pesona keindahannya.

Sarah jalan menuju suatu ruangan di belakang, dan tak lama ia pun kembali dengan sebuah cangkir teh hangat dan satu toples makanan ringan.

Sarah duduk di dekatku. Hal yang cukup lama tak aku lakukan dengan Sarah. Ia menghujaniku dengan berjuta pertanyaan. Dan kujawab pertanyaannya dengan penuh ambisi dan semangat. Telah cukup lama aku merindukan suasana seperti ini. Kami berbincang, tertawa dan mencurahkan banyak hal. Aku dan Sarah saat itu, seolah berjalan bersama menyusuri lorong waktu dan memungut kenangan kami satu persatu. Kami mengingatnya lagi. Kami mengenangnya kembali. Segala kejadian, segala kesenangan bahkan kenakalan yang kami lakukan selagi masih memakai seragam sekolah dulu.

Tak beberapa lama, seorang perempuan setengah baya melangkah anggun kearahku. Melempar senyumannya. Aku bangkit dari dari tempat dudukku, mencium tangannya dan lembut tangannya membalai kepalaku. Suaranya terangkat,

“Putriku Sarah, mengapa kau tak memberitahu ibu bahwa Dilan akan datang kesini?”

Sarah memberikan senyumnya. Tangannya merapihkan aksesoris bunga yang menempel pada rambutnya.

“Untuk memberikan kejutan pada ibu!” Jawabnya.

“Dengan memberikan ibu tak menjamu tamu kita seperti ini sayang?”.

Ucapnya sambil melemparkan senyumnya kepadaku.

“Oh ibu.. Bukankah hal itu bisa kita lakukan sama-sama nanti ibu?” Jawab Sarah dengan nada      yang begitu manja.

“Ah Putriku.. Bibirmu selalu saja pintar mengembalikan kata-kata pada ibumu ini!”

Ibu tak melepas senyumnya. Dan aku juga hanya bisa tersenyum melihat percakapan dua wanita dihadapanku. Suasana hangat begitu kental kurasakan. Belaian ibu Sarah dikepalaku masih nyaman kurasakan. Dengan tangan yang masih terus digenggamnya, aku berkata kepadanya,

“Ibu, kau tak harus menjamuku dengan dengan apapun itu. Aku cukup senang melihat senyummu lagi. Kau tahu ibu, aku begitu merindukanmu!”

Kulihat wajahnya berseri. Bibirnya tersenyum. Pipinya merona. Ia tampak muda dari usia yang sebenarnya. Ia memandangku. Mengeluarkan sesuatu kalimat kepadaku,

“Kau memang putri keduaku. Tentunya setelah Sarah mu yang genit itu!”

Kulihat Sarah. Ia menggerakan bibirnya kesamping. Cemburu fikirku. Ah, tapi ternyata tidak. Senyum manisnya kembali merekah. Matanya berbinar. Ia berkata dengan suaranya begitu lembut,

“Kau tak salah menyebut Dilan putrimu ibu. Ia memang saudariku. Iya kan Dilan?”

“Tentu saja Sarah!” Jawabku dengan perasaan sangat bahagia.

Kulihat ibu tersenyum. Telapak tangannya masih menggenggam jemariku. Terasa begitu lembut. Dan kehangatan , begitu kental kurasakan.

Kami duduk di ruang tengah. Gelak tawa dan canda diantara kami seperti suara nyanyian yang bersenandung dalam ruangan orkestra. Bergema. Tak memperdulikan siapapun yang tak suka mendengarnya. Aku bertukar kisah. Tak hanya dengan Sarah. Tapi ibunya yang telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Menguak masa lau. Berjalan bergandengan mengitari hari-hari kemarin. Dengan semangat dan antusias.

Ibu bercerita bagaimana ia telah melewati masa mudanya. Bagaimana ia berbahagia. Dan bagaimana ketika ia ditinggal selamanya oleh seorang yang begitu dicintainya ketika Sarah masih berada dalam kandungannya.

Aku menyimaknya. Sambil membayangkan dan merenungi bila aku berada di posisisinya. Dan kurasa, aku tak mungkin bisa kuat sepertinya. Aku melihat ibunda Sarah seperti sebatang pohon tua yang tinggi yang sanggup melawan badai dan sengatan matahari. Bagitu kuat. Begitu tegar. Dan yang lebih mengagumkan adalah rasa cintanya yang begitu besar pada almarhum suaminya. Cinta yang terpatri  dalam hatinya brgitu kuat hingg mengahalanginya untuk memulai cinta dengan lelaki lain.

Sarah hanya terdiam. Sesekali, ia menatapku dan berganti memandang ibunya yang sejak tadi bercerita yang seolah sedang membaca bab per bab suatu buku drama kehidupan.

Dalam ruangan yang hangat itu, waktu terasa berjalan dengan begitu cepatnya. Melalui jendela tengah, aku dapat melihat biasan-biasan keemasan ketika mentari mulai tenggelam di balik bunga-bunga mawar.

Ibunda Sarah masih meneruskan kisah pengalaman-pengalamannya kepada aku dan Sarah. Sejenak, Sarah beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju jendela yang diatasnya terpajang foto seoarang lelaki berseragam polisi. Sarah memandanginya. Penuh perhatian. Dengan ekspresi yang tak bisa aku mengerti. Sejenak, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap bunga-bunga mawar yang tumbuh mekar lewat sentuhan tangannya.

Ia menoleh ke arahku. Dan berganti memandang ibunya. Ia berkata,

“Waktu maghrib segera tiba. Apa tak sebaiknya kita bersiap untuk shalat bersama ibu?” Dengan Dilan tentunya.”

Wanita paruh baya itu menoleh pada Sarah.

“Tentu saja sayang, dan setelah itu ibu akan menyiapkan makan malam.”

“Biar kubantu ibu!” Ucapku pada ibu.

“Tentu saja sayang. Dan tentu saja kau pun akan bermalam disini kan Dilan?” Tanya ibu.

“Tentu ibu,, bila kau mengizinkan tentunya!” Jawabku

“Oh Dilan, singgahlah disini sesukamu. Kau sudah seperti putriku sendiri. Sarah, ajaklah Dilan ke kamarmu. Biarkan ia membersihkan tubuhnya!”

“Baik ibu!” jawab sarah sambil beranjak dari tempatnya. Sarah menoleh padaku. Ia tersenyum.

Aku beranjak dari tempat dudukku. Mengikuti Sarah menuju kamarnya. Au tak sabar untuk menyegarkan tubuhku. Dan tentu saja, aku pun tak sabar untuk menyantap menu makan malam hari ini yang kurasa, akan terasa begitu spesial.

Dan waktu berjalan cepat. Langit diluar telah berhias bintang-bintang yang seolah seperti taburan  permata dan sebuah bulan yang berlapis emas. Dan aku memandangi keindahan itu dari jendela kamar Sarah yang terletak di lantai dua. Angin malam terasa begitu menusuk tulang.

Aku bersyukur Tuhan telah mempertemukanku dengan malam ini. Aku melewatinya dengan melihat keindahan. Dengan kebahagiaan. Dan dengan menu makan malam yang begitu spesial yang kusantap dengan Sarah dan ibunya selepas Isya tadi. Wanita-wanita yang kusayangi ini telah memeperlaukanku dengan sangat baik, seperti keluarganya sendiri.

Dari depan jendela kamar, aku menoleh pada Sarah yang sejak tadi begitu asyik bermain dengan Laptopnya diatas tempat tidurnya. Ia tampak asyik menikmati dunia mayanyanya. Sedang aku mulai bosan dengan pemandangan yang kusaksikan dari balik kamar.

Tiba-tiba, suara Sarah memecah kesunyian.

“Dilan!”

“Iya Sarah!” Jawabku.

“Apa kau masih berhubungan dengan dengan penghafal Al Qur’an itu?” Tanyanya.

Aku mengalihkan pandanganku yang sejak tadi terpaku pada langit malam ke arah Sarah.

“Maksudmu Ali, Sarah?” Tanyaku.

“Ya.” Jawabnya.

Aku terdiam. Sarah menanyakan hal yang cukup sensitif kepadaku. Aku menjawabnya,

“Ya Sarah. Ia masih sering menghubungiku.” Jawabku.

“Dimana ia sekarang Dilan? Apa ia masih tinggal di rumah pamannya yang dekat dengan Majlismu itu?”. Tanyanya dengan penuh penasaran.

“Tidak Sarah. Satu bulan yang lalu, ia pergi ke rumah orang tuanya di Banda.”

Apa ia berpesan sesuatu sebelum pergi Dilan?” Tanyanya.

“Tidak.” Jawabku.

“Sesuatupun?” Tanyanya.

“Ya. Tidak Sesuatupun. Lagipula, apa yang harus ia pesankan kepadaku. Ia hanya pamit kepadaku. Dan entah kapan ia akan kembali lagi, aku pun tak menanyakannya.”

Sarah mengambil bantal dan menyimpannya diatas pangkuannya. Ia melanjutkan perkataannya.

“Bagaimna mungkin Dilan kau bisa melepaskan kepergiannya begitu saja tanpa kau ditinggalkan pesan apapun olehnya. Bukankah kalian adalah sepasang kekasih. Saling menyukai. Jelas-jelas aku membaca suratnya untukmu bahwa dia menuliskan dia begitu menyukaimu dan ingin menjadikanmu pendampingnya. Dan kini ia pergi. Tanpa memesankan papaun kepadamu. Lalu bagaimana tentang masa depan hubungan kalian berdua Dilan?”.

Sarah mengambil nafas panjang. Dia mengucapkan setiap kalimatnya dengan penuh antusias.

Aku menarik nafas, menjawab semua kalimtanya.

“Sarah, memang benar adanya jika kau berkata bahwa aku dan Ali memiliki hubungan. Ia memang pernah berkata bahwa ia menyukaiku. Ketika Ali pergi ke Banda, ia memang tak berpesan apa-apa kepadaku. Ia hanya berpamitan untuk pulang ke Banda dan entah kapan akan kembali lagi kesini. Tapi menurutku, itu bukan suatu perkara atau masalah apa-apa Sarah. Jika dia memang diperuntukkan untukku, suatu saat ia akan kembali dan mungkin akan menjemputku. Aku biasa saja Sarah. Aku biasa saja melepas kepergiannya.”

Sarah menatapku. Dan berkata, “Kau tak merasa kehilangan atas kepergiannya Dilan?”

“Kehilangan?” Tanyaku.

“Ya, kehilangan!” jawabnya.

“Tidak  Sarah.” Jawabku.

Sarah membaringkan tubuhnya dia atas kasur. Meletakan kepalanya dia atas bantal yang tadi dipangkunya.

“Kurasa aku telah mengerti Dilan. Mungkin Ali bukan tipe orang yang suka mengekpresikan bentuk cinta meski hanya sekedar dengan kalimat atau kata. Yah, kurasa ia adalah tipe orang yang percaya bahwa ruhani yang terjaga merupakan peraturan hidup manusia. Kulihat, ia memang pemuda yang baik. Ia seorang yang shaleh. Aku yakin, ia seorang yang konsisten pada ucapannya. Mungkin saja harapannya padamu ia pendam dahulu untuk sementara waktu.”

Aku diam. Aku sedikit tak mengerti apa yang diucapkan Sarah. Aku hanya mencoba mencerna apa yang telah di ucapkan oleh Sarah. Penilaian Sarah terhadap Ali memeng benar. Ali adalah pemuda baik. Ia berprinsip. Ia begitu memperhatikan akidah dan aturan dalam alur hidupnya. Sungguh beruntung wanita yang kelak bisa mendampinginya. Meski Ali pernah memintaku untuk hal seperti ini. Tapi entahlah, aku tak merasa yakin pada permintaannya kepadaku. Ada sesuatu hal di dalam hati yang tak bisa aku mengerti sendiri.

Dan malam yang menemaniku kini semakin larut. Kulihat Sarah membaringkan tubuhnya. Matanya yang jernih mulai meredup. Barangkali mimpi mulai akan menjemputnya.

“Aku mulai mengantuk Dilan!” Ucapnya.

“Tidurlah Sarah!” Jawabku.

“Kau juga yah Dilan!”

“Iya Sarah, sebentar lagi. Oh ya, boleh kupinjam Laptop mu sebentar Sarah?” Pintaku.

“Silahkan saja Dilan. Tapi tak keberatankah kau bila aku tidur duluan?”

“Silahkan!” Jawabku sambil membuka Laptop Sarah di meja belajarnya.

Meski kala itu malam telah larut, kantuk sama sekali belum menghampiriku. Kubuka email ku yang hampir satu minggu lamanya tak terlihat. Kulihat kotak masuk. 2 buah email baru. Keduanya dari Ali. Agak sungkan membukanya. Kubaca e mail darinya, namun tak langsung ku balas. Nanti saja fikirku.

Kubuka salah satu fitur dari e mail yang kupakai. Yahoo Messenger. Lama sekali aku tak berseluncur ke dunia maya lewat sini.

Dan beberapa menit berselang, dialog dari fitur itu muncul. Menyapaku. Entah siapa aku pun tak tahu. Kubaca sapaan pembuka itu.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam”. Jawabku.

Dan dialog pesan itu muncul kembali.

“Kayfa haluki?” Anti fii Bogor?”.

Pertanyaannya membuatku penasaran. Bagaimana bisa ia mengajakku chat dengan menggunakan bahasa arab.

“Alhamdulillah, khoir. Na’am. Ana fii Bogor. Wa kayfa anta?”.

Jawabku dengan mengikuti bahasa yang ia gunakan.

“Ana fii Bandung.” Jawabnya.

Ah, dia orang Indonesia fikirku. Ia bertanya lagi,

“Namamu Dilan?”.

“Ya “ jawabku.

“Dan kau?” tanyaku.

“Saya Hasan. Senang berkenalan denganmu Dilan. Kau respek pada pertanyaan dan bahasa yang kupakai. Hehe.”

“Ya Hasan, sama-sama. Senang juga berkenalan denganmmu. Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku berdialog dengan bahasa arab?’”. Tanyaku penasaran.

“Karena aku menyukainya Dilan. Meski aku belum mahir menggunakannya. Kurasa, kau mahir menggunakannya Dilan? Hhe. Iya kan?”

“Berlebihan itu! hhe.. ” jawabku

“Ajari aku Dilan!” Ucapnya.

“Tapi aku tak bisa Hasan?” Jawabku.

“Tadi kau menjawabku Dilan, dengan bahasa Arab. Aku yakin, kau pasti bisa!”

“Tapi aku beneran ga bisa Hasan?!“ Ucapku.

“Aku ingin sekali Dilan bisa berbahasa Arab. Aku ingin sekali. Kau tahu Dilan mengapa ak sangat menginginkan hal itu? Itu karena aku ingin sekali menempuh studi di negeri Mesir. Cairo University Dilan. Oh ya, apa kau pernah belajar bahasa arab Dilan?”.

“Pernah Hasan, tapi hanya sebentar.” Jawabku.

“Dimana?” Tanyanya.

“Di salah satu pesantren di kota Bogor Hasan.”

“Bagaimana metode pembelajaran disana Dilan?”

“Kurasa, mungkin sama seperti lembaga-lembaga bahasa pada umumnya. Bingung menjelaskannya. Hehe.”

“Tak perlu bingung Dilan, aku tak berniat membuatmu bingung ko dengan pertanyaanku. Hehe. Mungkin sebaiknya, suatu saat nanti aku mencoba belajar disana! Hehe”

“Silahkan saja”. jawabku..

“Ya, insya Allah. Aku juga memiliki sahabat dekat di kota Hujan sana. Insya Allah, jika kelak aku mengunjunginya, ingin juga aku bersilaturahmi denganmu Dilan. Dan tentu saja, kau jangan lupa untuk menunjukan tempat belajar bahasa arab mu itu yah? Hhehe”

“Insya Allah Hasan” Jawabku.

“Sudah larut malam Dilan, sebaiknya kau istirahat . Senang berkenalan denganmu”.

“Ya Hasan, Syukron.”

“Semoga saja esok atau nanti, kita masih bisa chatting lagi. Assalamualaikum Dilan.”

“Waalaikumsalam Hasan.”

Dan kututup semua jendela dalam laptop. Malam memang telah larut. Udara malam pun sayup terasa bersemilir diantara pori-poriku. Bulan berlapis emas diluar sana tampak semakin berkilauan di atas pekatnya malam. Seakan tersenyum. Mungkin tengah menikmati keindahan malam. Jutaan bintang yang tersusun dalam rasi pun menambah megahnya malam yang tengah kulalui. Aku tak sadar. Bahwa suatu saat nanti, malam ini akan menjadi salah satu malam yang selalu kuingat dan menjadi satu malam yang begitu berharga dalam alur hidupku.

About Restu Ramdani

Tak ada yang sempurna di dunia ini. Saya hanyalah seorang manusia yang butuh dan perlu bantuan orang.

Posted on June 21, 2010, in Novel and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: