Ibu,,, Ketika Senja….


Di akhir senja, ibu menghampiriku. Beliau duduk disampingku. Dekat sekali, hingga guratan-guratan diwajahnya tampak jelas terlihat oleh dua mataku.Ia mengucapakan kalimat-kalimat yang sampai kini masih terus terngiang ditelingaku. Begitu berharga menurutku. Dengan suaranya yang terdengar khas ditelingaku, beliau berkata,

”Puteriku, sebentar lagi, engkau akan menghadapi hidup baru… hidup yang tidak memberi ruang kepada ayah dan ibumu atau saudara kandungmu untuk terlibat didalamnya. Dalam hidup yang baru itu engkau akan menemani suamimu yang tidak ingin siapapun turut memilikimu, sekalipun dari darah dagingmu sendiri.

Jadilah engkau isteri sekaligus ibu bagi suamimu. Buatlah ia merasa bahwa engkau adalah segalanya baginya, dalam hidup dan dunianya.

Ingatlah selalu wahai putriku, bahwa lelaki, siapapun dia adalah bocah yang berbadan besar. Sedikit kata-kata yang manis dan canda tawamu terhadapnya akan membuatnya bahagia. Jangan pernah membuatnya merasa, dengan menikahimu dia telah menghalangimu dari keluarga dan kerabatmu. Karena perasaan yang sama juga telah menghantui dirinya. Sebab, dia juga telah meninggalkan kedua orantuanya dan keluarganya demi hidup dengan dirimu.

Kau adalah putri wanitaku, dan wanita biasanya selalu merindukan keluarganya dan merindukan rumah yang menjadi tempat kelahirannya, tempat dimana dia tumbuh, besar dan belajar.

Akan tetapi wanita harus bisa membiasakan dirinya dengan kehidupan yang baru itu. Wanita harus menyesuaikan hidupnya dengan lelaki yang telah menjadi suaminya, pelindungnya, dan ayah bagi anak-anaknya, dan itulah duniamu yang harus bisa kau jalani nanti.

Puteriku, itulah hari-harimu yang akan menghampirimu. Itulah masa depan yang harus bisa engkau hadapi. Itulah rumah tanggamu yang akan kalian bangun berdua dengan suamimu. Aku tidak memintamu untuk melupakan ayahmu, ibumu dan saudara-saudaramu, karena selamanya kami tidak akan pernah melupakanmu. Akan tetapi putriku, tengoklah sesekali orang tuamu dan saudara-saudaramu meski nanti kau telah jauh dari kami. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melupakan belahan jantungnya?! Namun yang kupinta darimu adalah, cintailah suamimu,  sesuaikanlah dirimu dengan dirinya, dan berbahagialah hidup bersamanya. Jadilah wanita hebat dalam hidupnya.”

Itulah kalimat ibu yang hingga kini masih melekat di fikiranku dan berbekas dalam hatiku. Hingga kini, ku masih sering menitikan air matabila ingat setiap kalimat yang yang beliau ucapakan  kepadaku.

Aku mencintaimu ibu. Bagaimanapun, sampai kapanpun.

About Restu Ramdani

Tak ada yang sempurna di dunia ini. Saya hanyalah seorang manusia yang butuh dan perlu bantuan orang.

Posted on June 17, 2010, in Catatan Kehidupan and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: