Bandung Part 2


Kini, aku telah melewati zaman emasku. Zaman remaja, yang oleh sebagian orang diisi dengan kerlingan kebahagiaan, suka cita, dan harapan-harapan masa depan yang beraneka warna. Dan kini, aku ingin mengenang merekahnya fajar masa muda yang telah kulewati. Sebuah kesenangan, sebuah kebahagiaan, sebuah harapan, dan sebuah cinta masa muda.

Aku ingin mengingatnya. Aku ingin mengenangnya tanpa harus menyesali kepergiannya. Masih lekat dalam ingatanku, kala itu, cinta telah menganugerahiku sebuah harapan dan air mata. Harapan yang terbawa arus sungai menuju lautan, yang aku sendiri tak tahu kan bermuara sampai kemana. Harapan yang kulepas begitu saja, terbang ke atas langit menuju bintang entah bagaimana kelanjutannya

Kala itu, aku hanya bisa mengerti bahwa Tuhan telah menciptakan air mata sebagai pelipur lara.

Mungkin masih bisa teringat, bagaimana kebun-kebun hijau, danau, teratai, anggrek-anggrek, jalan setapak berbatu serta sudut-sudut jalan yang menjadi saksi langkah kaki aku dan dirinya. Masih teringat bagaimana  bisikan-bisikan suara angin, bisingnya suara kota hujan serta sejuknya pemandangan yang sama-sama kami lihat.

Ia telah telah banyak menceritakan banyak sekali hal-hal yang penuh keindahan. Kita tertawa, bercengkrama, dengan iringan suara-suara alam.

Aku pun masih mengingat keindahan tempat-tempat yang indah di Bandung Utara. Setiap kali ku pejamkan mata, aku lihat bunga-bunga itu, aku lihat air terjun itu, aku lihat pelangi itu, dan aku rasakan kesejukan kota itu. Aku pun masih bisa melihat bagaimana menakjubkannya pegunungan Tangkuban Perahu yang begitu kokoh tegak berdiri seakan berhasrat menggapai langit.

Setiap ku menutup kedua telingaku, aku masih bisa mendengar bagaiman gemiricik riak air terjun yang turun dari lembah hijau yang masih terdengar lembut.  Dan jatuhannya, membentuk danau kecil yang penuh dengan bebatuan. Aku masih bisa mendengar, bagaimana orang-orang disana saling membicarakan pesona keindahannya. Mereka bercengkarama, tertawa, berteriak sambil membasuh wajah dan tubuh mereka dengan air yang bening kemilau menunjukan sejatinya alam.

Masih kuingat pula, kesunyian yang telah aku jalani. Tanpanya. Tanpa suaranya. Dan sering kala itu aku menatap langit yang mendung seperti perasaanku. Itulah fikiranku. Hatiku terikat erat. Masih pada sosoknya. Setiap saat aku mendengar kicauan burung dan angin musin kemarau, aku merasa menderita tanpa mengerti alasan kesengsaraanku. Kala itu, aku masih menunggu. Sebuah alasan yang bisa membuatku bahagia. Tapi tak datang. Atau mungkin, waktunya belum tiba.

Orang bilang, kehilangan dapat membuat seseorang menjadi hampa. Dan kehampaan memunculkan nelangsa. Mungkin mereka benar. Karena itulah yang aku rasakan.

Aku berkata pada diriku sendiri. Bahwa aku tidak lemah. Aku kuat. Aku tak ingin dikuasai mimpi. Masih ada keindahan disana. Itu pikirku.

Entahlah, bagaimana perasaannya ketika itu. Aku tak mendengarnya. Dia seakan menghilang. Atau mungkin, aku lah yang menghilang dari hadapannya.

Kadang terbesit dalam hatiku untuk mengetahui bagaimana kabarnya. Apakah dia baik-baik saja. Apa dia masih mengenalku. Atau bahkan masih bisa mengingatku. Masih ingatkah dia pada bunga anggrek yang dia ceritakan. Masih ingatkah dia pada mimpi yang dia kisahkan. Masih ingatkah dia?. Ah, entahlah.

Memang, tak bisa aku pungkiri, bahwa aku cukup merindukannya. Mendambakan kehadirannya. Melihat kelopak matanya. Melihat senyumannya. Tapi tak ada. Dan yang kurasakan hanya kesunyian.  Kesunyian yang menjelma menjadi seorang teman dan memiliki kelembutan seperti sutra. Tapi tidak. Kesunyian itu terasa begitu kuat. Bahkan ia mampu mencengkeram. Ia menyerang. Membuatku menderita.

Tapi seperti yang kubilang, kesunyian itu menjelma menjadi seorang sahabat. Sebagai pengganti dari sesorang yang telah hilang.

Entahlah. Mengapa begitu terasa indah mengenangnya. Mengingatnya. Meski tanpa aku mengetahui apa dia juga merasakan keindahan dalam kesunyian yang tengah  aku rasakan.

Pesonanya di kedua pelupuk mataku telah menghilang. Tak nampak. Mataku tak mampu menjangkaunya. Benar. Bahwa aku merindukannya.

Dia memang telah hilang. Hanya jadi bayangan.

Dan begitlah kehidupanku. Kehadirannya yang begitu singkat dalam hidupku telah menggugah wawasan dalam diriku. Dan aku bisa mengerti, bagaimana jatuh bangunnya nasib seorang manusia.

Dan semua itu telah terlewati. Aku seperti dilahirkan kembali. Kehidupan ku seperti kertas kosong. Diatasnya, Ingin ku mulai ceritaku dari awal.

Semua keindahan yang masih bisa kuingat dan kuceritakan, masih kusimpan dan kukenang dalam-dalam. Semua itu membuatku rindu, meski aku tak mau terpenjara dan terikat pada kenangan masa lalu. Aku tak ingin ia melukai semangatku. Aku tak ingin ia meruntuhkan puing-puing hidupku yang dengan susah payah telah aku bangun. Masa lalu itu. Mungkin aku biarkan lepas seperti burung merpati. Yang terbang bebas diangkasa. Dan mungkin, sesekali aku akan menangkapnya. Sekedar untuk mengingat, mengenang dan mungkin menjadi cerita untuk anak cucuku kelak.

About Restu Ramdani

Tak ada yang sempurna di dunia ini. Saya hanyalah seorang manusia yang butuh dan perlu bantuan orang.

Posted on May 27, 2010, in Novel. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Wait for d next story..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: