Bandung Part 1


Part 1
Ketika itu, aku masih sangat peka menangkap beban seperti apa yang sedang menggelayut dalam hatiku. Aku meletakan kedua tanganku diatas kedua pahaku. Menutup mata. Merasakan desir semilir angin malam yang sedikit menggerakan ujung-ujung jilbabku.
Ingin sekali rasanya mencapai titik klimaks untuk kebahagiaan yang bisa aku rasakan pada detik-detik perpisahan. Aku bertanya pada seorang berkemeja hitam di sebelahku,

“Apakah keluargamu mengetahui bahwa kita bertemu disini saat ini?”
Dia menjawab, ‘Mereka tidak mengetahui bagaimana aku melewati waktuku saat ini. Mereka juga tidak tahu bagaimana aku telah menghabiskan hari-hariku pada hari kemarin. Mereka tak mengetahui bagaimana aku kecuali aku mengabarkan keadaanku kepada mereka.”
Aku bertanya lagi, “Apa akan ada yang menghalangimu datang ke taman masjid ini seandainya mereka tahu bahwa kau akan duduk di sebelahku seperti ini?”.

Dia menoleh kearahku, dan balik bertanya,
“Mengapa kau menanyakan hal seperti itu kepadaku?”.

Aku diam. Menatapnya. Aku memikirkan jawaban atas pertanyaannya. Aku coba memikirkan lebih dalam pertanyaan yang tadi aku lontarkan kepadanya. Aku punya alasan mengapa aku menanyakan hal itu kepadanya. Tapi aku tak bisa menjelaskannya. Aku tak bisa mengutarakannya. Aku hanya diam. Menggelengkan kepala. Dia melanjutkan perkataannya,

“Aku berdiri disini, berjalan melewati pintu-pitu kehidupanku. Aku dapat berfikir, berbicara dan bertindak. Sebelumnya, aku tidak tahu apa. Aku lemah. Sampai wanita hebat itu, kumaksud ibuku, mengajarkan banyak hal kepadaku. Meski bisa dibilang, dia cukup keras dalam mendidiku. Tapi Ketauhilah, tanpa sadar, beradanya aku di kota ini, duduknya aku di tempat ini, tak lepas dari doanya. Ibuku memiliki harapan besar dalam diriku. Dan aku pun rela memberikan segalanya kepadanya. Aku harus patuh kepadanya, melayaninya dan membuatnya bahagia. Kau tahu, aku hanyalah lelaki lemah dihadapan seorang ibu yanga seakan sangat perkasa.”

Sejenak suasana hening. Dan ia melanjutkan perkataannya,
“Tapi engkau, engkau seakan terpatri dalam hatiku.”

Aku menyimak kata-kata itu. Menoleh kepadanya. Kulihat, ia memejamkan matanya. Pada bibirnya, kulihat senyum bahagia tapi seakan bercampur dengan kerisauan. Ia menarik nafas panjang. Helaannya begitu berat. Sepintas terlihat, ia tengah menanggung suatu beban berat. Ia berbisik lirih,

“Aku menyimpan namamu. Tak hanya hari ini. Dan aku sadar, mereka tak akan pernah bisa menerima hal yang kurasakan ini.”

Aku hanya bisa menanggapi perkataannya dengan tarikan nafas yang begitu dalam. Aku mengangkat kepala. Menatap jutaan bintang yang yang sejak tadi memperhatikan aku dan orang di sebelahku.
Aku menggerakan lidahku. Berkata kepadanya,

“Awalnya , aku menganggapmu sekedar sahabatku. Bahkan kau begitu asing dalam hidupku. Tapi entah mengapa, aku merasa adanya sesuatu yang tak lazim. Tumbuh, dan aku merasakan kenyamanan dari apa yang aku rasakan. Cinta. Mungkin itulah namanya. Dan hal itu berpadu dengan rasa takut, mengisi hatiku dengan derita dan bahagia. Aku tahu, hal ini adalah hukum alam, kehendakNya. Seperti hukum alam yang membimbing bumi mengililingi matahari.”

Aku menarik nafas. Dan melanjutkan perkataanku,
“Waktu tak pernah tertidur. Ia menghanyutkan kita hingga kita sampai di tempat ini. Perkenalan kita di hari kemarin adalah rencanaNya. Tuhan memiliki tujuan. Sejak mengenalmu, setiap menitnya dalam hidupku penuh dengan rasa bahagia. Dan itu adalah suatu kecukupan bagiku yang harus aku syukuri.”

Suasana menjadi sepi. Aku menoleh kepadaya. Menatap wajahnya. Dan aku merasakan bahwa ia tengah berkontemplasi pada suatu hal dalam fikirannya. Aku mengerti perasaannya. Dan aku lebih mengerti bagaimana kedudukannya di keluarganya.

Apa aku harus mengaggap cinta sebagai suatu tamu asing. Datang dan pergi begitu saja. Apa aku memang harus menganggapnya sebagai suatu mimpi?. Meninggalkanku begitu saja ketika mataku telah terjaga.

Ia meletakkan cinta ditengah-tengah keluarganya yang penuh kedamaian. Menghindari peperangan dan perjuangan untuk menjauhkan orang-orang terkasihnya dari air mata karenaku.

Aku mengerti apa yang tengah dia alami. Aku coba temukan kesenangan dalam hatiku sendiri, untuk sekedar menghibur diri sendiri.

Aku coba menyelami, melihat keindahan pada sesuatu yang terjadi. Termasuk pada penolakan keluarganya. Aku coba memahami ketika mereka lebih mempercayai kisah dan lebih memegang mahkota adat ketimbang melihat dan mengenal bagaimana cinta lebih dekat. Ingin rasanya menggerakan lidah dan menyampaikan pada mereka bahwa cinta dan perasaan adalah salah satu kebebasan di dunia. Ia mampu membangkitkan semangat dan ia merupakan suatu sunnah alam.
Namun semua itu kuurungkan. Keinginan itu kupatahkan. Gelora itu kupadamkan. Dan cinta itu kulepaskan. Aku tahu, bahwa ada sesuatu yang lebih tinngi dari langit, lebih indah dari pelangi, lebih dalam dari lautan dan lebih membuatku bahagia dari ini semua.

Aku melihat kearahnya. Dengan rambut, wajah dan lengan yang disinari cahaya rembulan, ia tampak seperti gambar lukisan yang terlihat begitu bernilai. Ketika ia memandangku, ia berkata,

“Apa yang tengah kau fikirkan? Mengapa kau diam saja? Kenapa kau tak menceritakan sesuatu tentangmu kepadaku!”.

Aku menatapnya, bersamaan dengan itu, hilanglah kebisuanku,
“Siapa yang akan percaya bahwa mungkin pada akhirnya kita mampu mengatasi sebuah rintangan yang tengah menimpa kita? Cukuplah kita jadikan kenangan. Apa yang sudah terjadi telah terencana, tersusun rapi di Lauhil Mahfudz sana.”

Dia menatapku, bertanya, “Maksudmu? Apa yang kau rasakan saat ini?”.

Aku diam. Menatap wajahnya yang disinari cahaya rembulan. Kutatap ia dengan sungguh-sungguh, dan kulihat kedua kelopak matanya. Sinar bulan seakan telah membuat wajahnya menjadi pucat.

Suaraku lenyap. Aku tak ingin menjawab atau mengatakan apapun lagi kepadanya.
Kebisuan muncul diantar kami. Kami sama sama diam. Mematung, bagaikan dua buah menara masjid agung yang berdampingan di hadapan kami.

Diatas, jutaan bintang terus menatap ke arah kami. Dan aku yakin, beberapa pasang mata di balik langit pun tengah mengawasi. Aku merasakan agungnya malam ini ketika aku melihat bulan sabit perlahan tertutup awan.
Bandung malam itu tampak seperti kota yang tak pernah menutup matanya. Ia hidup. Penuh dengan celoteh manusia-manusia yang melewati malam tanpa tidur. Meski kala itu, waktu terus berjalan mencapai fajar.

Ia menoleh kepadaku. Menatapku. Dan mengulangi perkataannya.

“Mengapa kau diam? Apa yang tengah kau rasakan saat ini?!”

Aku menatapnya. Melihat kedua kelopak matanya. Dan masih diam. Dalam malam. Aku berfikir, ini adalah perpisahan.

About Restu Ramdani

Tak ada yang sempurna di dunia ini. Saya hanyalah seorang manusia yang butuh dan perlu bantuan orang.

Posted on May 26, 2010, in Novel and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Restu Ramdani

    Sebenernya, saya mash mancari cari n mendalami gmn karakter tokoh yg 1 nya nnih..
    biar bisa pas sempurna,,
    Ok, makasiih yaah comentnya,,
    tungguin postingan selanjutnya yyah..🙂

  2. fajar madridistas

    like this…

    subhanalloh sekali.,
    saya seperti masuk dan bersatu dalam diri tokoh pada novel ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: